Dosa Besar yang Terasa atau Tidak Sering Dilakukan Setiap Hari

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang suci, bersih dan terhindar dari dosa. Tetapi, bukan berarti "boleh" terus menerus melakukan kesalahan, apalagi kesalahan yang sama dan berulang kali dilakukan. 

Dalam artikel berikut akan diulas dosa-dosa besar yang sadar atau tidak sering dilakukan setiap hari, setidaknya, mungkin ada satu atau dua perbuatan dosa yang selalu saja dilakukan berulang kali. 

Tidak bermaksud menghakimi, karena penulis juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa, melainkan sebagai pengingat untuk kita semua, barangkali setelah membaca artikel ini bisa sedikit melakukan perbaikan dalam kehidupan sehari-hari secara bertahap. 

Artikel mengenai dosa besar yang diakui atau tidak oleh kita sebagaimana berikut hanya gambaran umum berdasarkan ayat Al Qur'an dan Hadits. Lebih jelas dan tata cara bertaubat dari berbagai dosa berikut (mumpung masih ada umur), silakan belajar ke guru ngaji yang lebih berkompetensi dalam bidang ilmu agama Islam. 

Inilah dosa-dosa besar yang sadar atau tidak, diakui atau tidak, sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari :

Syirik (Percaya terhadap selain Allah SWT)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

Yang termasuk melakukan dosa syirik:
  1. Jika ada yang meyakini bahwa penguasa langit adalah Allah dan penguasa bumi adalah selain Allah, atau meyakini bahwa penguasa langit adalah berserikat antara Allah dan makhluk, atau meyakini bahwa Allah itu memiliki penolong dalam penciptaan langit dan bumi, maka ia musyrik. Ini syirik dalam rububiyah.
  2. Sujud kepada selain Allah, nadzar kepada selain Allah, menyembelih tumbal pada selain Allah, beribadah hanya untuk cari muka atau pujian (riya’), maka itu termasuk syirik. Riya’ termasuk syirik sebagaimana tekstual hadits. Ini syirik dalam uluhiyah.
  3. Meyakini bahwa ada yang semisal Allah dalam nama dan sifat, atau mengatakan bahwa menetapnya Allah di atas ‘Arsy seperti menetapnya makhluk di atas ranjang, atau mengatakan bahwa turunnya Allah ke langit dunia seperti turunnya makhluk, maka ini pun syirik. Demikian keterangan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam Tafsir Surat An Nisa’, 1: 387 yang penulis sarikan.
  4. Jika ada seseorang percaya pada ramalan bintang; meyakini ampuhnya pelet dan jimat; meyakini bahwa jika ingin do’a mudah dikabulkan, maka bertawasullah kepada wali atau pak kyai yang telah mati, nanti mereka yang menyampaikan do’a pada Allah;
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88).

Meninggalkan Shalat Tanpa Uzur Syar'i

Allah SWT Tuhan YME sang maha pencipta seluruh mahluk di muka bumi ini. Lantas, kenapa masih ada yang tidak mau melaksanakan perintah-NYA, salah satunya panggilan Allah SWT untuk mahluknya yang beriman, yaitu untuk bersujud kepada-NYA mendirikan sholat?

Apa kata Allah SWT untuk orang seperti itu? Sombong. Bahkan, kesombongannya lebih tinggi daripada iblis yang sangat terlaknat. Sebagaimana kita ketahui bahwasannya iblis hanya tidak mau sujud kepada nabi Adam AS, sebelumnya, iblis beribadah (sujud) kepada Allah SWT dan tinggal di surga.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An Nur [24] : 56)

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ


“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5)

Sa’ad bin Abi Waqash, Masyruq bin Al Ajda’, dan yang lainnya mengatakan, ”Orang tersebut adalah orang yang menunda-nunda shalat sampai keluar waktunya.”

Orang yang mendirikan shalat saja masih bisa celaka, apalagi yang tidak?
Sombong adalah sifat tercela yang tidak disukai oleh siapapun. Jika panggilan Allah SWT untuk mendirikan shalat saja tidak didengar (berani membangkang kepada Allah SWT), apalagi ucapan dari sesama manusia, dianggap angin lalu.
وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (7) يَسْمَعُ آَيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (8) وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آَيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ ()
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.”
(QS. Al Jatsiyah [45] : 7-9)

Durhaka Kepada Orang Tua

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24).

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, yang dimaksud dengan berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya adalah berbakti, mengasihi dan lemah lembut kepadanya. Dan yang dimaksud dengan membentak mereka adalah berbicara secara kasar kepada keduanya.

RIBA

Riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan).
لعن الله آكلَ الرّبا، وُموكِلَه، وكاتبَه، وشاهدَيْه إذا علموا به
“Allah SWT melaknat pemakan riba (pemberi pinjaman), nasabah (peminjam) atau orang yang mewakilkan peminjam, penulisnya dan orang-orang yang menyaksikannya, padahal ia mengetahui.”
(Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wîli ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, hal: 38!). Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, Al-Baihaqi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzy, Al-Darimy, Al-Nasaiy, dan juga tertuang dalam Kitab Musnad Abdullah bin Mas’ud.

Seiring haramnya riba, maka semua pihak yang berhubungan dengannya dihukum berdosa. Tidak hanya pemakannya (pemberi pinjaman), nasabah (peminjam) atau orang yang mewakili peminjam, saksi dan penulisnya juga dihukum sebagai berdosa disebabkan unsur ta’âwun (tolong menolong) dalam perkara batil.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah dan tinggalkan hal yang berkaitan dari riba, jika kalian beriman. Maka, jika kalian tidak melakukannya, maka umumkanlah perang dengan Allah dan Rasulnya.
(Q.S. Al-Baqarah: 278-279)

Contoh transaksi RIBA :
  1. Kredit motor, rumah, mobil, peralatan elektronik, rumah tangga, dll dengan adanya tambahan bunga (meskipun 0,1% misalnya), denda akibat keterlambatan membayar cicilan dari tanggal jatuh tempo dan penalti yang disebabkan perlunasan dipercepat dari tenor/jangka waktu cicilan.
  2. Tukar uang baru dengan uang lama seraya memberikan kelebihan (imbalan/keuntungan) dari penukar uang lama kepada pemilik uang baru.


Membicarakan Aib/Keburukan Orang Lain (Ghibah)


Dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak, diakui atau tidak, karena merasa diri kita paling benar, paling bisa, paling tinggi pendidikannya, paling banyak gelar akademiknya, paling tinggi kedudukan, pangkat dan jabatannya, tanpa terasa kita "merendahkan" orang lain dengan membicarakan keburukannya, kesalahannya, bahkan aibnya dengan sesama teman yang dianggap "selevel".

Membicarakan keburukan, kesalahan dan aib orang lain menurut Al Qur'an adalah perbuatan menjijikkan yaitu seperti memakan daging saudaranya sendiri yang telah menjadi bangkai. Berikut ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang ghibah :
وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ
“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]


Zina

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٢٩﴾ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٣٠﴾ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina dan homoseks), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Ma’ârij/70:29-31]
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [Al-Israa/17:32]

Pacaran adalah salah satu bentuk perbuatan mendekati zina sebagaimana dalam ayat dan surat Al Qur'an diatas. Karena pacaran akan menimbulkan hawa nafsu dan perbuatan seperti minimal bergandengan tangan dan berduaan.


Curang


Berbuat curang dalam hal apapun, seperti korupsi, mengakali timbangan, dll mendapat ancaman dari Allah SWT melalui Al Qur'an berikut dalam surat dan ayat berikut :
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al Muthaffifin : 1)


Mencela/Mengumpat


Dalam kegiatan sehari-hari kita sering bercanda. Dalam bercanda, seringkali melampaui batas, misalnya sampai memaki (mengumpat) dan mencela (menghina). Meskipun orang yang kita umpat dan cela menerima karena dianggap sebagai bercanda, namun tidak bagi Allah SWT. Malaikat mencatatnya sebagai salah satu dosa besar seperti firman Allah SWT dalam Al Qur'an :


وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al Humazah [104] : 1)

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Mukminûn/23:1-7]

Taubat


Mari kita bertaubat bersama-sama selagi masih ada sisa usia.

Taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allâh Azza wa Jalla pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan adalah wujud nyata dari taubat.

Mari kita bertaubat bersama-sama selagi masih ada usia. Foto : adamhawa
Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, inabah (kembali) kepada Allâh Azza wa Jalla dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allâh SWT. Jadi, sekedar meninggalkan perbuatan dosa, namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allâh Azza wa Jalla, maka itu belum dianggap bertaubat.

Seseorang dianggap bertaubat jika ia kembali kepada Allâh Azza wa Jalla dan melepaskan diri dari terus-menerus melakukan dosa seperti dosa-dosa besar diatas. Wallahu a'lam..

Sumber : Islampos, Almanhaj, Rumaysho, Kiblat, Republika

0 Response to "Dosa Besar yang Terasa atau Tidak Sering Dilakukan Setiap Hari"

Post a Comment