Masih Mau Mendustakan Nikmat Allah SWT?

Berita Viral | persibpersija.com - Meskipun Tuna Netra, Mbah Kom 32 Tahun Berjualan Sapu Lidi 

Bersyukurlah. Kita sudah diberikan panca indra yang normal. Diberikan kesehatan untuk bisa bekerja. Lantas, masih mau mendustakan nikmat Allah SWT? Masih tidak malu terus mengeluh? Masih tidak tahu diri dengan mengabaikan perintah Allah SWT?
Bermata tapi tak melihat
Bertelinga tapi tak mendengar
Bermulut tapi tak menyapa
Berhati tapi tak merasa

Berharta tapi tak sedekah
Berbenda tapi tak berzakat
Berilmu tapi tak beramal

Berjalan tapi tak terarah

penggalan lirik lagu Bimbo yang berjudul "bermata tapi tak melihat". Itukah kita?


Kakek tuna netra itu berangkat dari Subang, Jawa Barat (Jabar) ke Bandung berjalan kaki dengan jarak 60 kilometer (km) untuk menjual sapu lidi (berkeliling). Keterbatasan fisik (tuna netra/tidak melihat - baca) bukan hambatan berarti baginya untuk tetap berjuang dan berusaha demi menghidupi keluarga.


Mbah Komon, nama beliau, awalnya berjualan disekitar tempat tinggalnya sendiri, Dawuan Subang. Namun, semakin hari jualannya tambah sepi. Sehingga Mbah Komon memberanikan diri untuk menjual dagangannya itu ke daerah Bandung.



Panas terik matahari, debu jalanan ditambah asap pekat kendaraan bermotor,  tubuh berpeluh keringat, sampai hujan deras sudah biasa dilalui kakek renta ini yang konon berdasarkan cerita beliau sudah 32 tahun berjualan sapu lidi. 


Keadaannya yang tidak bisa melihat, membuat Mbah Komon tak jarang mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai terserempet motor, hampir tertabrak mobil, kaki tertusuk paku atau duri, penipuan, hingga tersesat beberapa hari di tempat yang tidak beliau ketahui. Kendati berbagai risiko bahaya dialami, tidak membuat dirinya berhenti untuk menjemput rezeki.

Sapu lidi yang dijual oleh Mbah Komon dibanderol Rp. 2.500 satu ikat. Sewaktu Mbah Komon muda, beliau mampu membawa 40 ikat sapu lidi. Seiring dengan bertambahnya usia, kondisi fisik dan tenaganya yang semakin berkurang, kini beliau hanya mampu membawa 20 ikat sapu lidi.

Mbah Komon | Foto : brilio.net

Terbayang betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh kakek yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu. Belum lagi jarak yang harus ditempuh sampai berpuluh-puluh kilometer perjalanan tanpa alas kaki, dengan kondisi jalan aspal yang sangat panas dan penuh dengan kerikil tajam.

Kemiskinan, usia dan keterbatasan fisik bukan menjadi alasan untuk berputus asa, di saat kebanyakan orang menjadikan keterbatasan sebagai sarana menggantungkan hidup kepada orang lain dengan cara meminta minta atau bahkan yang lebih hina sekalipun, yaitu mereka (oknum) yang sudah memiliki gaji dan banyak tunjangan, pangkat dan jabatan yang dihormati, tetapi masih saja memperkaya diri sendiri dengan tega melakukan pungli dan korupsi.

Mbah Komon percaya, Allah SWT akan sangat menyayangi dan akan memberi jalan bagi hamba-NYA yang mau berusaha. (ARP/SWH/BRL)

0 Response to "Masih Mau Mendustakan Nikmat Allah SWT?"

Post a Comment